Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Budaya

Bermain Angklung, Yuk..!

Pendidikan Bermain Angklung, Yuk..! Penduduk pribumi memainkan angklung untuk membangkitkan jiwa nasionalisme mereka melawan penjajah. Angklung, alat musik asal Jawa Barat, merupakan warisan budaya milik bangsa Indonesia yang tak ternilai harganya. Nah, sebagai generasi penerus, kalian berkewajiban menjaga dan melestarikan alat musik yang terbuat dari bambu itu. Caranya, selain memahami lebih dalam mengenai berbagai hal terkait angklung, kalian dapat belajar memainkannya. Asyik, bukan? 

Puasa Hari Asyuro' dan Amalan Lainnya

Syeikh Nawai al-Bantani Dalam kitab Nihayatuz Zain, Syaikh Nawawi al-Bantani menerangkan hari-hari tertentu yang disunnahkan berpuasa. Pertama puasa hari arafah, yaitu puasa pada tanggal sembialn Dzulhijjah bagi yang tidak berhaji. Kedua puasa tanggal sepuluh Muharram yang dikenal dengan hari asyuro'. Ketiga puasa tanggal Sembilan Muharram atau disebut dengan hari tasu'a. Keempat puasa enam hari di bulan Syawwal. Kelima puasa tanggal tiga belas pada tiap bulannya. Keenam puasa hari senin dan kamis. Demikian diterangkan dengan kalimat يسن صوم عرفة وعاشوراء وتاسوعاء وستة من شوال وأيام البيض والاثنين والخميس Tanggal sepuluh Muharram yang dalam bahasa arab disebut asyuro' adalah hari istimewa. Nabi pernah ditanya mengenai keistimewaan tanggal tersebut. Beliau menjawab bahwa puasa tanggal 10 Muharram yakaffirus sannah al-madhiyyah .

Teater dan Dikotomi Kebudayaan

ADA dua (jenis) Indonesia. Begitu kata budayawan Jacob Sumardjo dalam sebuah acara diskusi Teater Membaca Tradisi yang diselenggarakan di lobi Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, beberapa waktu lalu. Dua Indonesia itu adalah yang urban dan yang lokal. Mereka yang urban berkembang di kota-kota modern, berbahasa kesatuan Indonesia, hidup dari makan gaji, berpola pikir global modern, berpendidikan Barat. Sementara mereka yang lokal hidup di luar kota atau perdesaan, berbahasa lokal, hidup dari produksi pertanian atau peramu, berpola pikir kesukuan dan penduduknya homogen. “Perbedaan antara yang urban dan lokal itu menghasilkan perbedaan pemikiran dalam memaknai suatu produk kebudayaan. Produk kebudayaan tua berasal dari mereka yang lokal sementara kebudayaan baru lahir dari mereka yang urban,” kata Jacob.