Langsung ke konten utama

Teater dan Dikotomi Kebudayaan

ADA dua (jenis) Indonesia. Begitu kata budayawan Jacob Sumardjo dalam sebuah acara diskusi Teater Membaca Tradisi yang diselenggarakan di lobi Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, beberapa waktu lalu.
Dua Indonesia itu adalah yang urban dan yang lokal. Mereka yang urban berkembang di kota-kota modern, berbahasa kesatuan Indonesia, hidup dari makan gaji, berpola pikir global modern, berpendidikan Barat.
Sementara mereka yang lokal hidup di luar kota atau perdesaan, berbahasa lokal, hidup dari produksi pertanian atau peramu, berpola pikir kesukuan dan penduduknya homogen. “Perbedaan antara yang urban dan lokal itu menghasilkan perbedaan pemikiran dalam memaknai suatu produk kebudayaan. Produk kebudayaan tua berasal dari mereka yang lokal sementara kebudayaan baru lahir dari mereka yang urban,” kata Jacob.

Menurut Jakob, produk kebudayaan tua yang lahir dari rahim lokalitas biasanya berkaitan dengan budaya-budaya tua, primordial dengan pembacaan yang kosmosentris, religius, tradisional, logika religius-magis, dan cenderung spiritualistik.
Sementara produk kebudayaan baru Indonesia, terutama setelah terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia, cenderung antroposentris, sekuler, modernis, logis, materialistis, serta berorientasi kapitalis. Perbedaan tersebut menurut Jakob merupakan sebuah kekayaan atau keragaman budaya yang dimiliki oleh Indonesia.
Sayangnya, seiring berkembangnya zaman, perlahan-lahan mereka yang lokal terpinggirkan dan tersisihkan oleh kuasa budaya yang lebih baru muncul di perkotaan. “Dengan derasnya arus modernisasi penduduk kota, maka keberadaan keberagaman budaya ini akan sempurna dimatikan,” kata Jacob.
Persoalan dikotomi ini tidak hanya disadari oleh para budayawan tetapi juga oleh para pelaku seni yang berkiprah di dunia pertunjukan di tanah air. Menurut Radar Panca Dahana dalam salah satu tulisannya, Teater Segala yang Mungkin (dari Multikulturalisme hingga Kemenduaan Teater Indonesia), gaya seni pertunjukan kemudian terbagi menjadi dua yakni mereka yang berpola kesenian penghayatan spiritualitas (teater tradisi, lokal) dan intelektualitas (teater modern, Barat).
Teater tradisional biasanya berangkat dengan bentuk yang lebih cair, spontan, serta tak teratur yang memungkinkan para pemainnya untuk berimprovisasi setinggi mungkin dalam mengolah dialog di atas panggung. Sementara teater modern yang berangkat dari gaya pertunjukan Barat memiliki dramaturgi, sinkronisasi antara satu bagian dengan yang lainnya, serta berorientasi logika.
Gerakan penggalian budaya lokal telah lama dilakukan oleh dramawan Indonesia semenjak tahun 1960 seperti diantaranya dilakukan oleh Arifin C Noer, Rendra, Putu Wijaya, Ikranegara, Suyatna Anirun, Teguh Karya, Wahyu Sihombing, Saini KM, serta N Riantiarno dan dipentaskan ke atas panggung.
Pada generasi yang lebih muda, beberapa praktisi teater juga berupaya menggali lokalitas untuk ditampilkan di perkotaan, seperti di antaranya Butet Kartaredjasa dengan Indonesia Kita yang di dalamnya mengangkat pelaku seni dari daerah yang ditampilkan dalam sebuah acara pertunjukan dengan kemasan modern.
Iswadi Pratama yang mengolah ruh teater tradisi ‘warahan’ Lampung ke dalam bentuk teater modern. Yudi Ahmad Tajudin dari Teater Garasi yang menggarap, misalnya, kesenian tradisional Tarling-Indramayu dalam pertunjukan ‘Tubuh Ketiga’ dan nama-nama lainnya.
Bentuk penggalian ini bisa hadir dengan mengambil napas ruh bentuk teater tradisi, menampilkan seniman lokal langsung ke perkotaan, hingga mengolah persoalan kebudayaan di daerah untuk dikaitkan dengan modernitas.
Bisri Effendie, antropolog LIPI yang sering meneliti kebudayaan mengatakan, kita tak akan sanggup mendirikan kebudayaan baru belaka, yang tidak berhubungan dengan waktu silam. Kebudayaan baru itu bersendikan kebudayaan lama.
Konektivitas itu yang menghasilkan perpaduan antara irasionalitas dan rasionalitas, spiritualitas-intelektualitas, pembelajaran atas multikulturalisme, serta interaksi sosial.
“Ada beberapa pandangan dan sikap terhadap tradisi. Dua yang terpenting adalah mereka yang melihat tradisi dan kebudayaan tak ubahnya seperti artefak, benda mati, hasil kejayaan leluhur yang pantas dimuseumkan dalam bentuk teks tertulis.
Lalu yang satunya lagi, percaya bahwa tradisi dan kebudayaan merupakan produk dari interaksi sosial kehidupan yang selalu dinamis. Tetapi, semestinya kita tak terjebak ke dalam dikotomi kebudayaan antara yang lalu dan yang sekarang,” katanya.
Bagi Bisri, tradisi merupakan sebuah instrumen dalam komunitas yang dapat melakukan kontak baik politik, ekonomi, serta budaya. Hidup adalah sebuah keberagaman, sehingga pemahaman akan sesuatu yang di luar ‘kebaruan’ diperlukan agar tidak terjadi keseragaman (homogen).
Dalam ranah pertunjukan, proses pembacaan tradisi (serta interaksi sosial yang melingkupinya) menjadi hal yang tak terhindarkan. Seperti dikutip oleh Bisri dari perkataan Gus Dur, teater berangkat dari pengamatan atas kehidupan sosial masyarakat. Kalau tidak ada, maka tidak perlu ada teater.
“Dengan mengapresiasi tradisi lokal yang selama ini menjadi bagian penting dalam pertarungannya dengan kebudayaan homogenitas, teater di Indonesia bukan saja membela kebudayan lokal, tetapi sekaligus menghargai dan menegakkan pluralitas kebudayaan,” ujarnya.
= Dony PH | Utami DK

Sumber: http://www.jurnalbogor.co.id/?p=212730

Postingan populer dari blog ini

Ajengan Nuh Karang Kitab Sunda

Sumber: http://www.nu.or.id Ajengan Nuh Karang Kitab Sunda
Dari tangan Ajengan KH Muhammad Nuh Ad-Dawami Garut, Jawa Barat, mengalir puluhan karya tulis. Umumnya menggunakan bahasa Sunda, tapi ada juga yang berbahasa Arab dan Indonesia. 
Penggunaan abjadnya ada yang berhuruf Latin, umumnya Arab Pegon. Sementara bentuk penulisannya, ada yang naratif, juga nadzom. Secara umum, karya-karya itu bernuansa tasawuf dan tauhid, di samping beberapa kitab fiqih. 
Menurut puteri ketiga Ajengan Nuh, Ai Sadidah, ada sekitar 50 buah. “Setiap bulan puasa, pasti melahirkan karya tulis. Dan kitab itulah yang akan dikaji selama sebulan,” katanya di kediaman Ajengan Nuh, Garut, Senin (11/2) lalu.
Uniknya, karya-karya pengasuh Pondok Pesantren Nurul Huda Cisurupan Garut terus itu masih ditulis tangan.

Mbah Salman, Mursyid Bersahaja nan Kharismatik Wafat

Duka masih menggelayuti lingkungan Pesantren Al-Manshur Popongan Tegalgondo Wonosari Klaten. Pengasuh pesantren tersebut, KH M Salman Dahlawi wafat, Selasa (27/8) pukul 17.45 WIB, dalam usia 78 tahun. Kepergiannya membawa duka yang mendalam bagi banyak pihak, khususnya bagi kalangan Jam’iyyah Thariqah
Mbah Salman, begitu dia biasa dipanggil oleh para santrinya, merupakan mursyid Thariqah Naqsabandiyyah-Khalidiyyah. Saat ini, dia juga tercatat menjadi anggota Majelis Ifta’ (Majelis Fatwa) di Jam’iyyah Ahlit Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyah (JATMAN). Selama hidup beliau juga pernah menjabat sebagai Mustasyar di Nahdlatul Ulama (NU).

Penelitian Arkeolog, Bogor Pusat Peradaban Dunia

Mahasiswa arkeologi dari Universitas Indonesia dan Institut Teknologi Bandung meneliti Situs Gunung Sodong di Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor, sebagai kawasan pusat peradaban dunia. “Untuk masalah keilmuan kami serahkan kepada para ahlinya, seperti kawan-kawan dari arkeologi UI dan ITB (untuk membuktikannya), karena kami meyakini Bogor adalah pusat peradaban dunia,” kata Wakil Bupati Bogor Karyawan Faturachman saat menyambut calon-calon arkeolog muda itu di Cibinong, Senin.