Langsung ke konten utama

Jalan di Kec. Cileungsi Rusak

Diguyur Hujan, 25 Persen Jalan Rusak

Cileungsi - Hujan yang terus mengguyur di wilayah Cileungsi dan sekitarnya selama satu bulan terakhir diklaim oleh Kepala UPT Pengawas Bina Marga Cileungsi, Cucu Gemuruh telah mengakibatkan kerusakan sebanyak 25 persen jalan di seluruh wilayah Cileungsi.
Selain itu, banyaknya kendaraan bertonase melebihi kemampuan jalan semakin mempercepat kerusakan jalan di sejumlah wilayah di Kecamatan Cileungsi.
“Genangan air sehabis hujan semakin menambah cepatnya proses kerusakan jalan apalagi intensitas kendaraan bertonase di wilayah Cileungsi juga cukup padat. Berdasarkan pantauan kami sedikitnya 25 persen jalan di Cileungsi mengalami kerusakan karena dua faktor tersebut,” ungkap Cucu Gemuruh kepada wartawan, kemarin.
Kerusakan parah akibat tingginya curah hujan dan kendaraan berat saat ini terjadi di jalan Klapanunggal-Cipeucang. Awalnya kerusakan jalan sekitar satu kilometer, namun dikarenakan banyaknya genangan air dan kendaraan berat yang melintas, kini kerusakan sudah mencapai dua kilometer. “Selain karena curah hujan yang tinggi kerusakan jalan ini akibat sering dilintasi kendaraan milik perusahaan keramik yang beratnya melebihi tonase,” jelasnya.
Kerusakan berat lainya juga terjadi di jalan Kranggan-Gunungputri yang mencapai 300 meter “Tapi pada 2012 ini pemerintah akan melakukan betonisasi dan pelebaran jalan Cikeas-Bojongnangka sepanjang 8 kilometer karena memang mengalami kerusakan cukup parah,” imbuhnya.
Menurut Cucu, di musim kemarau kerusakan jalan di wilayah Gunungputri, Cileungsi, Klapanunggal dan sekitarnya hanya berkisar 5 persen. Namun pada tahun ini kerusakan bertambah hingga 25 persen. “Hal itu tidak lepas dari banyaknya genangan air di sejumlah jalan rusak serta tingginya intensitas kendaraan berat yang melintas. Sehingga kerusakan jalan menjadi meningkat,” pungkasnya.
= Taofik Hidayat

sumber
http://www.jurnalbogor.com/?p=203272

Postingan populer dari blog ini

Ajengan Nuh Karang Kitab Sunda

Sumber: http://www.nu.or.id Ajengan Nuh Karang Kitab Sunda
Dari tangan Ajengan KH Muhammad Nuh Ad-Dawami Garut, Jawa Barat, mengalir puluhan karya tulis. Umumnya menggunakan bahasa Sunda, tapi ada juga yang berbahasa Arab dan Indonesia. 
Penggunaan abjadnya ada yang berhuruf Latin, umumnya Arab Pegon. Sementara bentuk penulisannya, ada yang naratif, juga nadzom. Secara umum, karya-karya itu bernuansa tasawuf dan tauhid, di samping beberapa kitab fiqih. 
Menurut puteri ketiga Ajengan Nuh, Ai Sadidah, ada sekitar 50 buah. “Setiap bulan puasa, pasti melahirkan karya tulis. Dan kitab itulah yang akan dikaji selama sebulan,” katanya di kediaman Ajengan Nuh, Garut, Senin (11/2) lalu.
Uniknya, karya-karya pengasuh Pondok Pesantren Nurul Huda Cisurupan Garut terus itu masih ditulis tangan.

Mbah Salman, Mursyid Bersahaja nan Kharismatik Wafat

Duka masih menggelayuti lingkungan Pesantren Al-Manshur Popongan Tegalgondo Wonosari Klaten. Pengasuh pesantren tersebut, KH M Salman Dahlawi wafat, Selasa (27/8) pukul 17.45 WIB, dalam usia 78 tahun. Kepergiannya membawa duka yang mendalam bagi banyak pihak, khususnya bagi kalangan Jam’iyyah Thariqah
Mbah Salman, begitu dia biasa dipanggil oleh para santrinya, merupakan mursyid Thariqah Naqsabandiyyah-Khalidiyyah. Saat ini, dia juga tercatat menjadi anggota Majelis Ifta’ (Majelis Fatwa) di Jam’iyyah Ahlit Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyah (JATMAN). Selama hidup beliau juga pernah menjabat sebagai Mustasyar di Nahdlatul Ulama (NU).

Penelitian Arkeolog, Bogor Pusat Peradaban Dunia

Mahasiswa arkeologi dari Universitas Indonesia dan Institut Teknologi Bandung meneliti Situs Gunung Sodong di Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor, sebagai kawasan pusat peradaban dunia. “Untuk masalah keilmuan kami serahkan kepada para ahlinya, seperti kawan-kawan dari arkeologi UI dan ITB (untuk membuktikannya), karena kami meyakini Bogor adalah pusat peradaban dunia,” kata Wakil Bupati Bogor Karyawan Faturachman saat menyambut calon-calon arkeolog muda itu di Cibinong, Senin.