Langsung ke konten utama

KREATIFITAS SISWA BOGOR MINIM



Bogor - Belum lama ini, dunia perteateran di Kota Bogor sedikit terangkat ke permukaan. Pasalnya, baru kali pertamanya, instansi resmi, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bogor menyelenggarakan Festival Teater Pelajar. Sebagai batu pijakan, pihak penyelenggara tak muluk-muluk dalam hal kualitas dan kuantitas kepesertaan SERTA kepenyelenggaraan.
Artinya, dari segi kualitas garapan maupun jumlah peserta bukan menjadi satu-satunya tolok ukur. Intinya, festival teater pelajar atau istilah yang dipakai Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bogor, Festival Drama Perjuangan tingkat Pelajar SMA/SMK/MA se-Kota Bogor ada dulu. Urusan lain, bicarakan belakangan.
Ketika menyaksikan enam peserta yang mengikuti perlombaan yang terkesan memaksakan diri itu, kualitas dari masing-masing peserta masih jauh dari harapan. Padahal, jika panitia tidak ngotot menghelat event tahun ini, kualitas kawan-kawan teater pelajar dapat lebih maksimal. Yakin.
Dalam sebuah diskusi teater, Maestro Teater Indonesia, Putu Wijaya pernah berkata, “Dalam bentuk yang lebih modern, pertunjukan teater diselenggarakan dengan cara yang profesional. Profesional dalam hal ini adalah adanya manajemen yang matang dalam tahap perencanaan, pelaksanaan, dan pascaproduksinya,”.
Profesionalisme dalam teater yang ditawarkan Putu Wijaya meliputi, pengelolaan suatu pertunjukan seni – agar tujuan pementasan teater khususnya; bisa berjalan lancar dan berhasil dengan baik – penerapan manajemen sebagai ilmu dan seni sangat diperlukan.
Bukan semata-mata untuk tujuan komersil, tapi juga sebagai proses belajar. Dengan kata lain, ada beberapa hal pokok dan menjadi kunci dan sangat penting untuk dijadikan pegangan dalam mengatur jalannya suatu pertunjukan, di antaranya, sebelum mengadakan pertunjukan harus diketahui dahulu kapasitas pekerjaan yang akan dilakukan.
Ini menyangkut masalah proses penentuan tujuan, perencanaan, pengaturan, pelaksanaan dan pengarahan atau penggerakan, serta pengawasan sampai tujuan. Demikian juga dengan apa yang disebut dengan prinsip-prinsip manajemen, sebagai dalil-dalil umum manajemen mutlak harus dilaksanakan untuk dapat menjamin keberhasilan dalam mengelola suatu pertunjukan teater. Jadi, tak ada kesan main-main dalam setiap penyelenggaraan festival teater pelajar.
Perkembangan teater pelajar di Kota Bogor khususnya, kini boleh dikatakan mengalami stagnasi serius. Banyaknya sanggar-sanggar teater yang ada di sekolah-sekolah, nyatanya bukan merupakan jaminan bahwa para pelakunya (termasuk dari pihak sekolah yang berperan memfasilitasi kegiatan mereka) belum punya militansi yang kuat untuk menumbuhkan iklim berteater.
Tanpa mengurangi peran positif dari festival teater tingkat pelajar yang digelar Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bogor,  di mana ajang tersebut menjadi salah satu media bagi teater pelajar untuk saling berkompetisi dan menampilkan karya terbaik mereka – kegiatan ini masih menyisakan ‘catatan’ bahwa perlu ada pembenahan-pembenahan untuk menyikapi perkembangan yang ada selama ini.
Di sisi lain, kendala yang kerap dihadapi para pelaku teater pelajar adalah adanya sikap pragmatis dari pihak sekolah yang belum sepenuhnya memberi perhatian dan bantuan yang memuaskan pada kegiatan ekstra ini.
Akibatnya, sebagai contoh, terkadang siswa yang hendak latihan untuk suatu produksi untuk pementasan mereka, harus tersendat-sendat untuk meminta dispensasi lantaran harus dihadapkan dengan pelajaran tambahan atau les pelajaran di luar jam sekolah. Padahal saat itu, mereka juga mesti bersiap-siap untuk satu pementasan. Di saat seperti itu, dengan terpaksa siswa harus memilih.
Salah satu dewan juri lomba tersebut, Adry dari Teater Koma, memberikan tujuh catatan tersendiri bagi para pelaku teater pelajar, di antaranya, komposisi panggung, teknik dasar pementasan, dialog, keaktoran dan kecerdasan memahami kata per kata dalam naskah yang dipentaskan. Kalau disimpulkan, harus banyak belajar teknik-teknik dasar bermain teater. Latihan rutin, dan jangan malas membaca.
Terakhir, semoga Festival Teater Pelajar menjadi agenda rutin. Sehingga, setiap tahun, minimal ada satu momentum di mana semua pelaku teater pelajar di Kota Bogor dapat bertemu dan menjalin komunikasi. Harapannya, ada sebuah komunitas atau semacam forum teater pelajar. Tujuannya, selain menjadi media komunikasi, juga menjadi media pembelajaran.
Dan semoga, Festival Teater Pelajar ini diikuti dengan terealisasinya Parade Teater tingkat mahasiswa se-Bogor. Harapannya, jangan ada lagi kata-kata lomba. Jadikan event ini sebagai ajang berkumpul dan silaturahmi, membahas strategi berteater yang asyik di Bogor. Begitu.
= Dony P Herwanto
donyph@jurnas.com


Sumber,
http://www.jurnalbogor.com/?p=201577

Postingan populer dari blog ini

Mbah Salman, Mursyid Bersahaja nan Kharismatik Wafat

Duka masih menggelayuti lingkungan Pesantren Al-Manshur Popongan Tegalgondo Wonosari Klaten. Pengasuh pesantren tersebut, KH M Salman Dahlawi wafat, Selasa (27/8) pukul 17.45 WIB, dalam usia 78 tahun. Kepergiannya membawa duka yang mendalam bagi banyak pihak, khususnya bagi kalangan Jam’iyyah Thariqah
Mbah Salman, begitu dia biasa dipanggil oleh para santrinya, merupakan mursyid Thariqah Naqsabandiyyah-Khalidiyyah. Saat ini, dia juga tercatat menjadi anggota Majelis Ifta’ (Majelis Fatwa) di Jam’iyyah Ahlit Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyah (JATMAN). Selama hidup beliau juga pernah menjabat sebagai Mustasyar di Nahdlatul Ulama (NU).

Ajengan Nuh Karang Kitab Sunda

Sumber: http://www.nu.or.id Ajengan Nuh Karang Kitab Sunda
Dari tangan Ajengan KH Muhammad Nuh Ad-Dawami Garut, Jawa Barat, mengalir puluhan karya tulis. Umumnya menggunakan bahasa Sunda, tapi ada juga yang berbahasa Arab dan Indonesia. 
Penggunaan abjadnya ada yang berhuruf Latin, umumnya Arab Pegon. Sementara bentuk penulisannya, ada yang naratif, juga nadzom. Secara umum, karya-karya itu bernuansa tasawuf dan tauhid, di samping beberapa kitab fiqih. 
Menurut puteri ketiga Ajengan Nuh, Ai Sadidah, ada sekitar 50 buah. “Setiap bulan puasa, pasti melahirkan karya tulis. Dan kitab itulah yang akan dikaji selama sebulan,” katanya di kediaman Ajengan Nuh, Garut, Senin (11/2) lalu.
Uniknya, karya-karya pengasuh Pondok Pesantren Nurul Huda Cisurupan Garut terus itu masih ditulis tangan.

Penelitian Arkeolog, Bogor Pusat Peradaban Dunia

Mahasiswa arkeologi dari Universitas Indonesia dan Institut Teknologi Bandung meneliti Situs Gunung Sodong di Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor, sebagai kawasan pusat peradaban dunia. “Untuk masalah keilmuan kami serahkan kepada para ahlinya, seperti kawan-kawan dari arkeologi UI dan ITB (untuk membuktikannya), karena kami meyakini Bogor adalah pusat peradaban dunia,” kata Wakil Bupati Bogor Karyawan Faturachman saat menyambut calon-calon arkeolog muda itu di Cibinong, Senin.