Langsung ke konten utama

Bermain Angklung, Yuk..!

Pendidikan
Bermain Angklung, Yuk..!



Penduduk pribumi memainkan angklung untuk membangkitkan jiwa nasionalisme mereka melawan penjajah.
Angklung, alat musik asal Jawa Barat, merupakan warisan budaya milik bangsa Indonesia yang tak ternilai harganya. Nah, sebagai generasi penerus, kalian berkewajiban menjaga dan melestarikan alat musik yang terbuat dari bambu itu. Caranya, selain memahami lebih dalam mengenai berbagai hal terkait angklung, kalian dapat belajar memainkannya. Asyik, bukan? 


Di antara kalian mungkin ada yang belum mengetahui bahwa 9 Maret ditetapkan sebagai Hari Musik Nasional. Memang, terhitung sejak tahun 2003, Pemerintah Indonesia, ketika itu di bawah kepemimpinan Presiden Megawati Soekarnoputri, menetapkan peringatan Hari Musik Nasional yang jatuh setiap 9 Maret.

Pertanyaannya, mengapa dipilih tanggal 9 Maret? Tanggal tersebut memang terbilang istimewa karena merupakan hari lahir Wage Rudolf Supratman. Beliau dikenal sebagai pahlawan dan tokoh nasional yang berjasa menciptakan lagu kebangsaan Indonesia Raya. 

Dalam rangka memperingati Hari Musik Nasional itu, ada baiknya kita menggali pengetahuan tentang berbagai alat musik, khususnya alat musik tradisional. Salah satu alat musik khas Indonesia yang populer, baik di dalam negeri maupun di mancanegara, adalah angklung. Alat musik yang satu ini tentu cukup kalian kenal. Meski begitu, tidak ada salahnya jika kita bersama-sama menggali lebih dalam mengenai berbagai hal terkait angklung. 

Angklung berasal dari kata angka, yang berarti “nada”, dan lung, yang berarti “putus” atau “hilang”. Dengan demikian, angklung berarti nada yang terputus. Angklung diketahui sebagai alat musik terbuat dari dua tabung bambu yang ditancapkan pada sebuah bingkai yang juga terbuat dari bambu. Tabung-tabung tersebut diasah sedemikian rupa sehingga menghasilkan nada yang beresonansi jika dipukulkan. Dua tabung tersebut kemudian ditala mengikuti tangga nada. Untuk memainkannya, bagian bawah dari bingkai itu dipegang oleh satu tangan, sementara tangan yang lain menggoyangkannya secara cepat dari sisi kiri ke kanan dan sebaliknya. Cara tersebut akan menghasilkan suatu nada yang berulang. 

Sejarah
Dilihat dari sejarahnya, alat musik itu berasal dari Jawa Barat dan telah dimainkan masyarakat Sunda sejak puluhan tahun silam. Pada masa kerajaan Hindu dan Sunda, angklung bahkan kerap dimainkan untuk keperluan upacara ritual masyarakat serta kehidupan sehari-hari. Sebagai perantara dalam upacara ritual, angklung dimainkan untuk menghormati Dewi Sri atau dewi kesuburan dengan harapan negeri dan kehidupan masyarakat selalu diberkati. Pada perkembangan selanjutnya, yakni ketika periode pemerintahan Kerajaan Sunda, angklung dimainkan untuk menyemangati warga dalam pertempuran Perang Bubat.

Penggunaan angklung sebagai alat pembangkit semangat masyarakat juga dilakukan pada masa penjajahan Belanda. Ketika itu, penduduk pribumi memainkan angklung untuk membangkitkan jiwa nasionalisme mereka melawan penjajah. Oleh karena itu, Pemerintah Belanda sempat melarang permainan angklung, kecuali jika alat musik itu dimainkan oleh anak-anak dan pengemis karena dianggap tidak memberikan pengaruh apa pun.

Dari waktu ke waktu, popularitas angklung semakin meningkat, tidak saja dalam lingkup nasional, tetapi juga
internasional. Pada 1938, Daeng Soetigna, seniman asal Bandung, Jawa Barat, menciptakan angklung yang berdasarkan tangga nada diatonik. Nah, sejak saat itulah angklung dapat pula dimainkan dengan alat-alat musik modern dalam sebuah orkestra. Alat musik itu juga kerap dimainkan untuk tujuan pendidikan dan hiburan. Dengan berbagai keunikan yang dimiliki angklung, tidak heran jika UNESCO, badan PBB yang mengurusi bidang pendidikan dan kebudayaan, menetapkan angklung sebagai warisan budaya dunia pada 18 November 2010. 

Jenis-Jenis Angklung
Ada beberapa jenis angklung yang dikenal selama ini.

Angklung kanekes, yakni angklung yang banyak dimainkan di daerah Kanekes atau biasa disebut sebagai kampung masyarakat Baduy.

Angklung dogdog lojor, yakni angklung yang biasa dimainkan pada kesenian dogdog lojor. Kesenian dogdog lojor merupakan salah satu kesenian yang ada di masyarakat kesatuan adat Banten Kidul.

Angklung gubrag. Istilah angklung gubrag dipakai di masyarakat Kampung Cipining, Kecamatan Cigudeg, Bogor. Angklung gubrag diperkirakan muncul ketika Kampung Cipining mengalami musim paceklik.

Angklung badeng, yakni angklung yang biasa dimainkan sebagai pengiring pada kesenian badeng.

Teknik Bermain 
Setelah mengetahui sejarah dan jenis-jenis angklung, adik-adik tentu tertarik untuk memainkannya. Namun, sebelum memainkannya, kalian mesti mengetahui terlebih dahulu cara memegang angklung yang benar. 

Tangan kiri bertugas memegang angklung dan tangan kanan bertugas menggetarkannya.

Tangan kiri dapat memegang angklung dengan cara memegang simpul pertemuan dua tiang angklung vertikal dan horizontal (yang berada di tengah) sehingga angklung dipegang tepat di tengah-tengah. Hal itu dapat dilakukan, baik dengan genggaman tangan dengan telapak tangan menghadap ke atas maupun ke bawah.

Posisi angklung yang dipegang sebaiknya tegak, sejajar dengan tubuh, dengan jarak angklung dari tubuh cukup jauh (siku tangan kiri hampir lurus), agar angklung dapat digetarkan dengan baik dan maksimal.

Tangan kanan selanjutnya memegang ujung tabung dasar angklung (horizontal) dan siap menggetarkan angklung.
Cara memainkan angklung sebenarnya sangat mudah. Kalian tinggal memegang rangka angklung di salah satu tangan (biasanya tangan kiri) sehingga angklung tergantung bebas, sementara tangan lainnya (biasanya tangan kanan) menggoyangnya hingga berbunyi. 

Secara umum, terdapat tiga teknik dasar menggoyang angklung. 

Kurulung (getar), merupakan teknik yang paling umum dipakai. Tangan kanan memegang tabung dasar dan menggetarkannya ke kiri dan kanan berkali-kali selama nada ingin dimainkan.

Centok (sentak), merupakan teknik dengan menarik tabung dasar dengan cepat oleh jari ke telapak tangan kanan sehingga angklung akan berbunyi satu kali saja (staccato).

Tengkep, teknik itu mirip kurulung namun salah satu tabungnya ditahan tidak ikut bergetar. Pada angklung melodi, teknik tengkep menyebabkan angklung mengeluarkan nada murni (satu nada melodi saja, tidak dua seperti biasanya). rachmawati devi

Postingan populer dari blog ini

Ajengan Nuh Karang Kitab Sunda

Sumber: http://www.nu.or.id Ajengan Nuh Karang Kitab Sunda
Dari tangan Ajengan KH Muhammad Nuh Ad-Dawami Garut, Jawa Barat, mengalir puluhan karya tulis. Umumnya menggunakan bahasa Sunda, tapi ada juga yang berbahasa Arab dan Indonesia. 
Penggunaan abjadnya ada yang berhuruf Latin, umumnya Arab Pegon. Sementara bentuk penulisannya, ada yang naratif, juga nadzom. Secara umum, karya-karya itu bernuansa tasawuf dan tauhid, di samping beberapa kitab fiqih. 
Menurut puteri ketiga Ajengan Nuh, Ai Sadidah, ada sekitar 50 buah. “Setiap bulan puasa, pasti melahirkan karya tulis. Dan kitab itulah yang akan dikaji selama sebulan,” katanya di kediaman Ajengan Nuh, Garut, Senin (11/2) lalu.
Uniknya, karya-karya pengasuh Pondok Pesantren Nurul Huda Cisurupan Garut terus itu masih ditulis tangan.

Mbah Salman, Mursyid Bersahaja nan Kharismatik Wafat

Duka masih menggelayuti lingkungan Pesantren Al-Manshur Popongan Tegalgondo Wonosari Klaten. Pengasuh pesantren tersebut, KH M Salman Dahlawi wafat, Selasa (27/8) pukul 17.45 WIB, dalam usia 78 tahun. Kepergiannya membawa duka yang mendalam bagi banyak pihak, khususnya bagi kalangan Jam’iyyah Thariqah
Mbah Salman, begitu dia biasa dipanggil oleh para santrinya, merupakan mursyid Thariqah Naqsabandiyyah-Khalidiyyah. Saat ini, dia juga tercatat menjadi anggota Majelis Ifta’ (Majelis Fatwa) di Jam’iyyah Ahlit Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyah (JATMAN). Selama hidup beliau juga pernah menjabat sebagai Mustasyar di Nahdlatul Ulama (NU).

Penelitian Arkeolog, Bogor Pusat Peradaban Dunia

Mahasiswa arkeologi dari Universitas Indonesia dan Institut Teknologi Bandung meneliti Situs Gunung Sodong di Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor, sebagai kawasan pusat peradaban dunia. “Untuk masalah keilmuan kami serahkan kepada para ahlinya, seperti kawan-kawan dari arkeologi UI dan ITB (untuk membuktikannya), karena kami meyakini Bogor adalah pusat peradaban dunia,” kata Wakil Bupati Bogor Karyawan Faturachman saat menyambut calon-calon arkeolog muda itu di Cibinong, Senin.