Langsung ke konten utama

Ke Pangandaran, Belum Lengkap Jika Tak ke Pananjung

Wisata

Jika Anda berkesempatan melancong ke Pangandaran, jangan lupa juga untuk menjelajah Pananjung.

Pesona pantai, kawasan cagar alam, goa, dan berbagai legenda nan mistis, siap menyambut pengunjung.

Beruntunglah Pananjung berada di sebelah selatan Jawa. Kawasan ini memang terkenal sebagai pemilik kawasan pantai yang cantik. Pantainya landai, airnya jernih, dan hamparan pasirnya putih.


Kawasan pantai yang nyaris tak berjarak antara air pasang dan surut membuat aktivitas pengunjung untuk berenang di sini juga terhitung aman.

Yang paling mengesankan dari pantai ini tentulah pengunjung bisa menyaksikan matahari terbit dan tenggelam di tempat yang sama. Sungguh sebuah pemandangan yang memesona.

Tak hanya suasana di kawasan pantai, kawasan lautnya juga menggugah selera pengunjung. Sebab, Pananjung tak hanya memiliki kawasan cagar alam, melainkan juga cagar laut.

Lewat jalur laut, pengunjung yang menggunakan perahu bisa melihat ke bawah air betapa indahnya ikan-ikan hias dan terumbu karang yang menghuni perairan Pananjung. Cagar lautnya mencapai luas 470 hektare.

Secara umum, cagar alam dan laut Pananjung memiliki luas sekitar 532 hektare. Beberapa di antaranya, atau sekitar seluas 37.70 hektare, sudah ditetapkan sebagai taman wisata.

Di Taman Cagar Alam Pananjung, pengunjung bisa menemukan berbagai jenis tumbuhan pohon. Sebuah kawasan yang rindang, dipenuhi pohon besar. Saking besarnya sehingga penyinaran matahari pun kadang-kadang sulit menembus tanaman kecil yang berada di bawahnya.

Beberapa jenis flora bisa ditemukan di sini. Ada pohon kondang dan pohon benda. Pun pohon jati, tanaman yang dominan di kawasan cagar alam ini. Konon, pohon jati di sini sudah tumbuh saat daerah ini masih jadi kawasan yang dikuasai VOC pada tahun 1651.

Dengan keanekaragaman hayatinya yang tinggi, kawasan cagar alam Pananjung kondusif untuk dihuni oleh beberapa satwa. Ada monyet ekor panjang, lutung, kalong, banteng, rusa, dan juga landak.

Karena termasuk daerah kawasan pantai, yang dominan memang monyet. Kawanan monyet kadang-kadang terlihat bergerombolan di pinggit pantai. Tak perlu takut karena monyet-monyet tersebut tidak nakal. Apalagi, di kawasan ini juga banyak terdapat pawang yang bisa menjaga liburan wisatawan pengunjungnya terasa lebih nyaman.

Jenis burung juga banyak ditemukan di sini. Sebutlah umpamanya cipeuw, cangehgar, tlungtumpuk, jogjog, biawak, tokek, dan ular.

Daya tarik lain dari kawasan cagar alam ini ialah banyak terdapat goa yang ada didalamnya, seperti Goa Panggung, Goa Parat, Goa Lanang, Goa Sumur Mudal dan juga goa-goa peninggalan Jepang.

Setiap goa memiliki cerita dan keunikan tersendiri. Salah satu goanya bernama Goa Keramat. Disebut Goa Keramat karena konon goa tersebut adalah tempat bertapa beberapa pangeran dari Mesir.

Legendanya, pada suatu hari Pangeran Maja Agung memanggil kedua putranya Pangeran Ahmad dan Pangeran Muhammad dan memberikan tugas untuk mengajarkan agama Islam ke daerah Ciamis Selatan. Pada hari yang telah ditentukan Pangeran Ahmad dan Mahammad pergi untuk menjalankan tugasnya.

Tetapi Pangeran Maja Agung tidak mendapat berita tentang putranya. Kemudian mengutus kakaknya Pangeran Raja Sumenda untuk mencarinya, Pangeran Raja Sumenda pergi sendirian dari Mesir, beliau mendengar suara yang memberitahukan bahwa kedua keponakannya ada dalam sebuah goa. Setelah bertemu kemudian melapor kepada Raja Maja Agung, tidak lama kemudian beliau menyusul dan bersama- sama bersemedi di goa.

Postingan populer dari blog ini

Ajengan Nuh Karang Kitab Sunda

Sumber: http://www.nu.or.id Ajengan Nuh Karang Kitab Sunda
Dari tangan Ajengan KH Muhammad Nuh Ad-Dawami Garut, Jawa Barat, mengalir puluhan karya tulis. Umumnya menggunakan bahasa Sunda, tapi ada juga yang berbahasa Arab dan Indonesia. 
Penggunaan abjadnya ada yang berhuruf Latin, umumnya Arab Pegon. Sementara bentuk penulisannya, ada yang naratif, juga nadzom. Secara umum, karya-karya itu bernuansa tasawuf dan tauhid, di samping beberapa kitab fiqih. 
Menurut puteri ketiga Ajengan Nuh, Ai Sadidah, ada sekitar 50 buah. “Setiap bulan puasa, pasti melahirkan karya tulis. Dan kitab itulah yang akan dikaji selama sebulan,” katanya di kediaman Ajengan Nuh, Garut, Senin (11/2) lalu.
Uniknya, karya-karya pengasuh Pondok Pesantren Nurul Huda Cisurupan Garut terus itu masih ditulis tangan.

Mbah Salman, Mursyid Bersahaja nan Kharismatik Wafat

Duka masih menggelayuti lingkungan Pesantren Al-Manshur Popongan Tegalgondo Wonosari Klaten. Pengasuh pesantren tersebut, KH M Salman Dahlawi wafat, Selasa (27/8) pukul 17.45 WIB, dalam usia 78 tahun. Kepergiannya membawa duka yang mendalam bagi banyak pihak, khususnya bagi kalangan Jam’iyyah Thariqah
Mbah Salman, begitu dia biasa dipanggil oleh para santrinya, merupakan mursyid Thariqah Naqsabandiyyah-Khalidiyyah. Saat ini, dia juga tercatat menjadi anggota Majelis Ifta’ (Majelis Fatwa) di Jam’iyyah Ahlit Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyah (JATMAN). Selama hidup beliau juga pernah menjabat sebagai Mustasyar di Nahdlatul Ulama (NU).

Penelitian Arkeolog, Bogor Pusat Peradaban Dunia

Mahasiswa arkeologi dari Universitas Indonesia dan Institut Teknologi Bandung meneliti Situs Gunung Sodong di Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor, sebagai kawasan pusat peradaban dunia. “Untuk masalah keilmuan kami serahkan kepada para ahlinya, seperti kawan-kawan dari arkeologi UI dan ITB (untuk membuktikannya), karena kami meyakini Bogor adalah pusat peradaban dunia,” kata Wakil Bupati Bogor Karyawan Faturachman saat menyambut calon-calon arkeolog muda itu di Cibinong, Senin.