Langsung ke konten utama

Kesetaraan Gender Juga di Bidang Iptek

Kesetaraan Gender Juga di Bidang Iptek

NGAMPRAH, (PRLM).- Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PB NU) KH. Said Agiel Siraj mengatakan, tuntutan kesetaraan gender yang disuarakan perempuan harus juga dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek). Khususnya penguasaan ilmu-ilmu agama sehingga kaum perempuan bisa menjadi rujukan masyarakat.

"Saya akan dukung Rais Am PB NU dari kalangan perempuan apabila perempuan mampu dalam bidang keilmuan," kata Kiai Said saat membuka Rakernas Fatayat NU di Lembang, Bandung Barat, Kamis (21/2/`13).

Lebih jauh Kiai Said mengatakan, keilmuan perempuan bisa setara dengan tokoh-tokoh ulama NU seperti KH. Maruf Amien, KH. Sahal Mahfudz, maupun ulama terdahulu. "Coba Fatayat kaji hal-hal terbaru misalnya masa iddah bagi kaum perempuan yang suami meninggal atau dicerai selama 100 hari," katanya.

Wanita yang masih dalam masa iddah harus berada di rumah dengan tak boleh bersolek. "Apakah ajaran Alquran soal iddah kaum wanita ini masih relevan? Bagaimana dengan wanita karier, menteri, anggota DPR, atau pengusaha yang harus berada di rumah selama 100 hari. Mari kita kaji soal ini," katanya. (A-71/A-88)***

Postingan populer dari blog ini

Ajengan Nuh Karang Kitab Sunda

Sumber: http://www.nu.or.id Ajengan Nuh Karang Kitab Sunda
Dari tangan Ajengan KH Muhammad Nuh Ad-Dawami Garut, Jawa Barat, mengalir puluhan karya tulis. Umumnya menggunakan bahasa Sunda, tapi ada juga yang berbahasa Arab dan Indonesia. 
Penggunaan abjadnya ada yang berhuruf Latin, umumnya Arab Pegon. Sementara bentuk penulisannya, ada yang naratif, juga nadzom. Secara umum, karya-karya itu bernuansa tasawuf dan tauhid, di samping beberapa kitab fiqih. 
Menurut puteri ketiga Ajengan Nuh, Ai Sadidah, ada sekitar 50 buah. “Setiap bulan puasa, pasti melahirkan karya tulis. Dan kitab itulah yang akan dikaji selama sebulan,” katanya di kediaman Ajengan Nuh, Garut, Senin (11/2) lalu.
Uniknya, karya-karya pengasuh Pondok Pesantren Nurul Huda Cisurupan Garut terus itu masih ditulis tangan.

Mbah Salman, Mursyid Bersahaja nan Kharismatik Wafat

Duka masih menggelayuti lingkungan Pesantren Al-Manshur Popongan Tegalgondo Wonosari Klaten. Pengasuh pesantren tersebut, KH M Salman Dahlawi wafat, Selasa (27/8) pukul 17.45 WIB, dalam usia 78 tahun. Kepergiannya membawa duka yang mendalam bagi banyak pihak, khususnya bagi kalangan Jam’iyyah Thariqah
Mbah Salman, begitu dia biasa dipanggil oleh para santrinya, merupakan mursyid Thariqah Naqsabandiyyah-Khalidiyyah. Saat ini, dia juga tercatat menjadi anggota Majelis Ifta’ (Majelis Fatwa) di Jam’iyyah Ahlit Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyah (JATMAN). Selama hidup beliau juga pernah menjabat sebagai Mustasyar di Nahdlatul Ulama (NU).

H Atang, Penunjang Kitab Pesantren 3 Kecamatan

H Atang, Penunjang Kitab Pesantren 3 Kecamatan
Subang, NU Online
Jika kita bertanya kepada para santri, “Dimana mendapatkan kitab-kitab kuning?” Tanpa berpikir panjang dan merenung berlama-lama, santri tersebut akan menjawab “di Haji Atang”. 

Jawaban tersebut akan muncul jika bertanya kepada santri-santri di tiga kecamatan Kabupaten Subang, yaitu Kalijati, Patokbeusi, dan Purwadadi. Ada juga dari Kecamatan Pabuaran dan Cikaum.