Langsung ke konten utama

Kontribusi Madin Kian Nyata

Bantul, NU Online
Eksistensi Madrasah Diniyah (Madin) di Daerah istimewa Yogyakarta, khususnya wilayah Bantul, mulai menunjukkan perannya di masyarakat. Kendati demikian, masih banyak kendala dan masalah yang perlu diperbaiki.

Madin Krapyak Yogyakarta sebagai salah satu Madin yang baru berkembang ikut memberikan kontribusi dalam mencerdaskan dan membentuk karakter anak berbasis agama. Hal itu dibuktikan dengan diadakan kegiatan pelatihan bagi ustadz dan ustadzah Madin yang bertempat di Aula Yayasan Kodama Yogyakarta, Jl. KH. Ali Maksum No. 04 Krapyak Kulon Sewon Bantul, pada hari Ahad (9/12) kemarin.


Jamiluddin, Ketua Yayasan Kodama Yogyakarta, dalam sambutannya mengatakan bahwa dalam mengembangkan Madin itu diperlukan integritas (keikhlasan) yang tinggi. “Perlu adanya totalitas dalam mengelola Madin untuk memberikan kontribusi riil (nyata) kepada masyarakat,” tegasnya.

Madin sebagai model pendidikan berbasis agama memiliki keunggulan tersendiri. Pendidikan yang lebih dekat dengan tradisi pesantren ini dapat menjadi basis pembentuk moral para peserta didik. Sehingga pelajaran yang dipelajari lebih banyak pelajaran agama, seperti Akidah-Akhlak, Fiqh, Qur’an-Hadis, Tajwid dan Baca Tulis al-Qur’an (BTQ).

Data Keminfo menyebutkan sekitar 90% siswa SD dan SMP sudah pernah melihat film ‘dewasa’ di internet. “Data itu mengejutkan saya, dan ini sebagai tantangan kita sebagai ustadz dan ustadzah di Madin untuk lebih giat dalam mendidik anak didik kita,” ungkap Nuryadi sebagai pemateri dalam kegiatan tersebut.

Karena selama ini proses pembelajaran di Madin terkendala masalah pendanaan dan kesadaran para santri. Di samping itu, banyak orang tua yang menyamakan Madin dengan Taman Pendidikan al-Qur’an (TPA), padaal berbeda. “Di Madin itu kan sudah ada kelasnya, ada tingakatan ula, wustha, dan seterusya, sedangkan di TPA tidak ada,” lanjut pembicara yang bekerja di Bidang KKDT Bantul.

Para peserta terdiri dari ustadz dan ustadzah yang berasal dari berbagai pesantren di Krapyak dan sekitarnya sangat aktif dan antusias. Salah satu peserta bertanya mengenai beberapa problem yang dihadapi sekarang, di antaranya perihal para peserta didik yang cenderung ‘menduakan’ Madin. Dan masalah kejelasan dan penyusunan kurikulum Madin.

Untuk memberikan nilai jual kepada masyarakat Madin harus menunjukkan kualitasnya dalam persaingan  pendidikan sekarang ini. “Di wilayah UGM ada Madin yang bayarannya mahal sekali, tapi banyak para orang tua yang antusias,” tegas lelaki kelahiran Bantul 39  tahun silam. Jadi, jika ada kejelasan kurikulum, silabus, dan apa yang didapatkan oleh para peserta didik, berapapun biayanya pasti banyak yang daftar.

Adapun mengenai kurikulum Madin sendiri, menurut lelaki lulusan Pascasarjana UNY ini, terbagi dua. Untuk Madin tingkat anak-anak TK kurikulumnya disusun sendiri berdasarkan kebutuhan masing-masing Madin tersebut. Dengan dibicarakan secara bersama-sama yang sesuai dengan para peserta didik. Sedangkan, untuk Madin Awaliyah sesuai dengan kurikulum yang disusun dari Pusat.

Nuryadi memberikan solusi dalam metode pembelajaran agar tidak mengalami kejenuhan.  Beliau berharap kepada para peserta (ustadz dan ustadzah) untuk memberikan pengajaran secara ‘cerdas’. Yakni, dengan memberikan pendidikan karakter melalui dongeng atau dengan reward untuk menumbuhkan rasa semangat para peserta didik. “Karena anak-anak biasanya jika diselingi dengan dongeng sangat senang dan pelajaran itu lebih efektif,” tegas beliau.

Diharapkan dengan adanya Madin Krapyak, anak-anak sekita mendapatkan pendidikan agama yang memadai sebagai bekal bermasyarakat. Selain itu, Madin Krapyak ini juga dapat memberikan kontribusi riil bagi masyarakat sekitar. Para wali murid juga diharapkan dapat ikut berpartisapasi dengan mendaftarkan buah hatinya ke Madin Krapyak. Karena Madin memiliki peran penting dalam membentuk karakter anak didik sebagai modal penerus bangsa. 



Redaktur    : A. Khoirul Anam
Kontributor: Ahmad Suhendra

Postingan populer dari blog ini

Mbah Salman, Mursyid Bersahaja nan Kharismatik Wafat

Duka masih menggelayuti lingkungan Pesantren Al-Manshur Popongan Tegalgondo Wonosari Klaten. Pengasuh pesantren tersebut, KH M Salman Dahlawi wafat, Selasa (27/8) pukul 17.45 WIB, dalam usia 78 tahun. Kepergiannya membawa duka yang mendalam bagi banyak pihak, khususnya bagi kalangan Jam’iyyah Thariqah
Mbah Salman, begitu dia biasa dipanggil oleh para santrinya, merupakan mursyid Thariqah Naqsabandiyyah-Khalidiyyah. Saat ini, dia juga tercatat menjadi anggota Majelis Ifta’ (Majelis Fatwa) di Jam’iyyah Ahlit Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyah (JATMAN). Selama hidup beliau juga pernah menjabat sebagai Mustasyar di Nahdlatul Ulama (NU).

Ajengan Nuh Karang Kitab Sunda

Sumber: http://www.nu.or.id Ajengan Nuh Karang Kitab Sunda
Dari tangan Ajengan KH Muhammad Nuh Ad-Dawami Garut, Jawa Barat, mengalir puluhan karya tulis. Umumnya menggunakan bahasa Sunda, tapi ada juga yang berbahasa Arab dan Indonesia. 
Penggunaan abjadnya ada yang berhuruf Latin, umumnya Arab Pegon. Sementara bentuk penulisannya, ada yang naratif, juga nadzom. Secara umum, karya-karya itu bernuansa tasawuf dan tauhid, di samping beberapa kitab fiqih. 
Menurut puteri ketiga Ajengan Nuh, Ai Sadidah, ada sekitar 50 buah. “Setiap bulan puasa, pasti melahirkan karya tulis. Dan kitab itulah yang akan dikaji selama sebulan,” katanya di kediaman Ajengan Nuh, Garut, Senin (11/2) lalu.
Uniknya, karya-karya pengasuh Pondok Pesantren Nurul Huda Cisurupan Garut terus itu masih ditulis tangan.

Penelitian Arkeolog, Bogor Pusat Peradaban Dunia

Mahasiswa arkeologi dari Universitas Indonesia dan Institut Teknologi Bandung meneliti Situs Gunung Sodong di Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor, sebagai kawasan pusat peradaban dunia. “Untuk masalah keilmuan kami serahkan kepada para ahlinya, seperti kawan-kawan dari arkeologi UI dan ITB (untuk membuktikannya), karena kami meyakini Bogor adalah pusat peradaban dunia,” kata Wakil Bupati Bogor Karyawan Faturachman saat menyambut calon-calon arkeolog muda itu di Cibinong, Senin.